KAMI DARI SEMUA : IndonesiAn BlogWalker

Blogging… Way I Get Relax a little while Learning     

Kami Dari Semua : Bila Sang Raja Terusir Dari Istana – Kampanye “Inisiatif Penyelamatan Hutan Rumah Harimau”

Hutan Indonesia dalam ancaman. Penebangan hutan terus-menerus berlangsung dalam skala besar hanya untuk kepentingan industri dan sebagaian orang saja.Fungsi hutan adalah penyeimbang iklim dan juga rumah bagi berbagai keaneka ragaman hayati.

Harimau Sumatera adalah salah satu kekayaan dari keanekaragaman hayati yang di miliki Indonesia dan saat ini berada di ambang kepunahan, hutan yang merupakan rumah mereka terhancurkan untuk perkebunan kayu, sawit, pertambangan dan lainnya.

Auman harimau semakin terdengar kuat, bukan lagi auman-“kebanggaan” tetapi auman rintihan dan kemarahan kemarahan karena “rumahnya” dihancurkan.

“Mata Harimau” selalu awas mengamati jejak perusak “rumah” mereka. Bersama Greenpeace, harimau akan mengawasi perusakan hutan dan menggalang dukungan penyelamatan hutan Indonesia. Mereka akan mendatangi anda untuk ikut mengawasi hutan Indonesia dan meminta dukungan anda untuk penyelamatan hutan “rumah” mereka dan kekayaan bangsa Indonesia.

Mereka mengajak anda untuk menjadi ‘Mata Harimau’, bersama-sama mengawasi dan mendesak pemerintah melindungi hutan Indonesia dan meminta industri perusak hutan berhenti membabat hutan alam.

Silek Harimau Minang & Greenpeace dalam kampanye ‘Inisiatif Penyelamatan Hutan Rumah Harimau’ – Taman Ismail Marzuki, Jakarta

Greenpeace melakukan perjalanan melintasi 3 provinsi di Sumatera, menelusuri hutan alam untuk mencari bukti perusakan hutan yang menjadi habitat Harimau Sumatera oleh ekspansi industri pulp and paper.

Harimau Sumatera (Pantheratigris Sumatrae) di Pulau Sumatra di Indonesia, merupakan satu dari enam sub spesies harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini dan termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered) dalam daftar merah spesies terancam yang dirilis Lembaga Konservasi Dunia IUCN.

Populasi liar diperkirakan antara 400-500 ekor, terutama hidup di Taman-taman nasional di Sumatra. Uji genetik mutakhir telah mengungkapkan tanda-tanda genetik yang unik, yang menandakan bahwa sub spesies ini mungkin berkembang menjadi spesies terpisah, bila berhasil lestari.

Penghancuran habitat adalah ancaman terbesar terhadap populasi saat ini. Pembalakan tetap berlangsung bahkan di taman nasional yang seharusnya dilindungi. Tercatat 66 ekor harimau terbunuh antara 1998 dan 2000.

Harimau Sumatra hanya di temukan di pulau Sumatra. Kucing besar ini mampu hidup di manapun, dari hutan dataran rendah sampai hutan pegunungan, dan tinggal di banyak tempat yang tak terlindungi. Hanya sekitar 400 ekor tinggal di cagar alam dan taman nasional, dan sisanya tersebar di daerah-daerah lain yang ditebang untuk pertanian, juga terdapat lebih kurang 250 ekor lagi yang dipelihara di kebun binatang di seluruh dunia.

Harimau Sumatra mengalami ancaman kehilangan habitat karena daerah sebarannya seperti blok-blok hutan dataran rendah, lahan gambut dan hutan hujan pegunungan terancam pembukaan hutan untuk lahan pertanian dan perkebunan komersial, juga perambahan oleh aktivitas pembalakan dan pembangunan jalan.

Karena habitat yang semakin sempit dan berkurang, maka harimau terpaksa memasuki wilayah yang lebih dekat dengan manusia, dan seringkali mereka dibunuh dan ditangkap karena tersesat memasuki daerah pedesaan atau akibat perjumpaan yang tanpa sengaja dengan manusia.

Greenpeace meluncurkan kampanye “Inisiatif Penyelamatan Hutan Rumah Harimau” di Jakarta, meminta pemerintah untuk menelaah kembali izin-izin penebangan hutan yang telah dikeluarkan, dan industri untuk menerapkan kebijakan tanpa perusakan hutan dalam operasinya.

Kami Dari Semua - Silek Harimau & Greenpeace

1 Juli 2011, Harimau Sumatera ditemukan terjerat oleh jeratan warga di areal perkebunan akasia, milik PT Arara Abadi (Konsesi Sinar Mas) di Kabupaten Pelalawan, Riau. Harimau berusia 1,5 tahun tersebut diperkirakan telah terjerat selama 7 hari sebelum akhirnya ditemukan oleh warga. Ia akhirnya mati akibat dari komplikasi luka parah yang dideritanya. Pembukaan hutan alam secara besar besaran untuk dijadikan hutan tanaman industri bagi kebutuhan industri kertas dan bubur kertas seperti yang dilakukan oleh Asia Pulp and Paper, telah mengancam habitat dan keberadaan satwa langka seperti Harimau Sumatera ini.Dan pada tanggal 1 Juli 2011, populasi sang “Raja Hutan” itu pun telah berkurang satu, tepat di lokasi kebun akasia yang dulu merupakan hutan rumah tempat tinggalnya.

Kami Dari Semua - Silek Harimau & Greenpeace

Kami Dari Semua - Silek Harimau & Greenpeace

Kami Dari Semua

Kami Dari Semua

Kami Dari Semua

Kami Dari SemuaKami Dari Semua

Kami Dari Semua - Sofia Moulizahra Ariko - Silek Harimau - Greenpeace

Kami Dari Semua - Silek Harimau & Greenpeace
  • Sofia Moulizahra Ariko - Kami Dari Semua - Silek Harimau - Greenpeace  Sofia Kampanye “Inisiatif Penyelamatan Hutan Rumah Harimau”

Selain harimau sumatara yang kini terancam punah, Indonesia sebelumnya telah mengalami dua kali kepunahan spesies Harimau yaitu Harimau Jawa dan Harimau Bali.

Harimau Jawa adalah jenis harimau yang hidup di pulau Jawa. Harimau ini dinyatakan punah di sekitar tahun 1980-an, akibat perburuan dan perkembangan lahan pertanian yang mengurangi habitat binatang ini secara drastis. Ada kemungkinan kepunahan ini terjadi di sekitar tahun1950-an ketika diperkirakan hanya tinggal 25 ekor jenis harimau ini. Terakhir kali ada sinyalemen dari harimau jawa ialah di tahun 1972. Di tahun 1979, ada tanda-tanda bahwa tinggal 3 ekor harimau hidup di pulau Jawa. Kemungkinan kecil binatang ini belum punah. Di tahun 1990-an ada beberapa laporan tentang keberadaan hewan ini, walaupun hal ini tidak bisa diverfikasi.

Faktor yang dianggap menjadikan Harimau Jawa punah adalah kerusakan habitat akibat tekanan penduduk dan perburuan intensif pada awal abad ke-20.

Di akhir tahun 1998 telah diadakan Seminar Nasional Harimau Jawa di UC UGM yang berhasil menyepakati untuk dilakukan “peninjauan kembali” atas klaim punahnya satwa ini. Hal tersebut karena bukti-bukti temuan terbaru berupa jejak, guratan di pohon, dan rambut, yang diindikasikan sebagai milik harimau jawa. Secara mikroskopis, struktur morfologi rambut harimau jawa dapat dibedakan dengan rambut macan tutul. Oleh karena itu hingga sekarang masih dilakukan usaha pembuktian eksistensi satwa penyandang status punah ini.

Rampokan macan (litografi berdasarkan lukisan olehJosias Cornelis Rappard)

Di akhir abad ke-19, harimau ini masih banyak berkeliaran di pulau Jawa. Di tahun 1940-an, harimau jawa hanya ditemukan di hutan-hutan terpencil. Ada usaha-usaha untuk menyelamatkan harimau ini dengan membuka beberapa taman nasional. Namun, ukuran taman ini terlalu kecil dan mangsa harimau terlalu sedikit. Di tahun 1950-an, ketika populasi harimau Jawa hanya tinggal 25 ekor, kira-kira 13 ekor berada diTaman Nasional Ujung Kulon. Sepuluh tahun kemudian angka ini kian menyusut. Di tahun 1972, hanya ada sekitar 7 harimau yang tinggal diTaman Nasional Meru Betiri. Walaupun taman nasional ini dilindungi, banyak yang membuka lahan pertanian disitu dan membuat harimau jawa semakin terancam dan kemudian diperkirakan punah di tahun 80-an.

Harimau jawa mempunyai ukuran tubuh yang lebih besar dari pada harimau sumatra dan harimau bali. Harimau jawa jantan mempunyai berat 150-200 kg dan panjangnya kira-kira 2.50 meter. Betina berbobot legih ringan, yaitu 75-115 kg dan sedikit lebih pendek dari jenis jantan. Besar tubuh harimau jawa ini diduga karena adanya kompetisi dengan macan tutul dan ajak. Disamping itu ada hukum: semakin menjauhi garis katulistiwa maka ukuran tubuh harimau akan semakin besar, kecuali harimau bali.

Di samping harimau jawa, ada dua jenis harimau yang punah di abad ke-20, yaitu Harimau Bali dan Harimau Persia. Secara biologis, harimau jawa mempunyai hubungan sangat dekat dengan harimau bali. Beberapa ahli biologi bahkan menyatakan bahwa mereka adalah satu spesies. Namun, banyak juga yang membantah pernyataan ini.


Para pemburu beserta Harimau Bali hasil buruan mereka. Gambar diambil pada tahun 1925.

Harimau Bali (Panthera tigris balica) adalah subspesies harimau yang sudah punah dan pernah mendiami pulau Bali, Indonesia. Harimau ini adalah salah satu dari tiga sub-spesies harimau di Indonesia bersama dengan harimau Jawa (juga telah punah) danharimau Sumatera (spesies terancam).

Harimau ini adalah harimau terkecil dari ketiga sub-spesies; harimau terakhir ditembak pada tahun 1925, dan sub-spesies ini dinyatakan punah pada tanggal 27 September 1937. Sub-spesies ini punah karena kehilangan habitat dan perburuan.

Sumber Tulisan :
♣ http://id.wikipedia.org/wiki/Harimau_sumatera/

 http://www.greenpeace.org/seasia/id/

 http://silek-harimau-minangkabau.blogspot.com/

♣ Kegiatan Sofia ‘Kami Dari Semua’ : Kampanye  “Inisiatif Penyelamatan Hutan    Rumah Harimau” @Taman Ismail Marzuki – Jakarta

7 responses to “Kami Dari Semua : Bila Sang Raja Terusir Dari Istana – Kampanye “Inisiatif Penyelamatan Hutan Rumah Harimau”

  1. yisha December 18, 2011 at 12:34 PM

    sedih baca ini sob….

    • Ariko (&) Sofia December 21, 2011 at 8:12 AM

      Iya memang bikin hati jadi merasa sedih sekali Yisha ..,
      Waktu aku liat tayangan gimana Sang Raja Rimba menjadi sangat tersiksa dan tidak berdaya menunggu kematiannya disebabkan jerat perangkap yang dipasang ‘MANUSIA’. Selama 7 hari Harimu itu tidak makan dan minum… Jeratan di kaki-nya menyebabkan infeksi luka yang parah … saat ditemukan Dia sudah sedemikian lemah … lalu upaya untuk menyelamatkan nyawa-nya ternyata tidak berhasil. Berkurang 1 lagi Harimau Indonesia😦

  2. Irfan Handi December 17, 2011 at 9:36 PM

    Jangan sampai ulah manusia yang tidak bertanggungjawab ini menyebabkan anak cucu kita kelak tidak dapat melihat raja rimba ini lagi.😦

    • Ariko (&) Sofia December 21, 2011 at 8:50 AM

      Mudah-mudahan ga’ sampe kejadian begitu Fan … Aamiin.

  3. bensdoing December 17, 2011 at 6:10 AM

    sya masih belum mengerti dgn kebijakan pemerintah soal pemberian HPH kepada pengusaha swasta yang banyak kecenderungannya melanggar hak-hak hutan itu sendiri dalam pelestariannya -termasuk habitat hewan- tentunya. Kasus ini sama juga dengan ketidakmengertian sya dengan masalah pengiriman TKI yg masih terus saja mengundang masalah !
    Pemerintah kita sepertinya menutup mata dengan dampak kedepan yg ditimbulkan oleh para pengusaha nakal yang berlindung dibalik topeng pemberdayaan SDA dan SDM diwilayah sekitar hutan itu sendiri. Seharusnya kita berkaca pada negara2 maju spt Jerman yang menerapkan hukum dengan tegas dimana setiap hewan yang ditangkap oleh seseorang maka urusannya adalah pengadilan, jadi jangan heran bila disana hewan2 spt burung dengan nyamannya berada disekitar rumah2 penduduk. Ini saya tahu karena punya teman blogger org Indonesia yg menetap di Jerman.
    btw deskripsi yang sangat mencerahkan dari postingan diatas….
    salam kenal dan salam persahabatan !

  4. Evi November 16, 2011 at 11:29 AM

    Semoga semakin banyak yg sadar bahwa perusakan habitat harimau jg mengancam nyawa manusia..

    • Ariko (&) Sofia November 16, 2011 at 12:53 PM

      Betul sekali Mba’🙂
      Mereka yang terlibat langsung melakukan ‘Perampokan Hutan’ dan kita-kita yang hanya tinggal diam karena tidak menyadari malapetaka besar dari deforesasi (penggundulan hutan) adalah yang pada nanti akhirnya menjadi ‘Mahluk’ yang paling terancam jiwanya.
      Bukan Harimau yang akan menebar malapetaka, tapi efek berantai dari kerusakan hutan lah yang akan melakukakannya untuk Sang Raja Rimba.

Your Comment Please, !t's FREE - 免費 - 무료 - ללא תשלום

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s